Sailing Komodo – Overland Flores Part 1

172 Views 0 Comment
sailing komodo

Halo!

Akhirnya punya kesempatan juga buat nulis cerita perjalanan saya beberapa waktu lalu ke Komodo dan Flores. Tulisan ini akan dibuat jadi beberapa part. Jadi jangan kuatir, mata kamu ngga akan capek kok bacanya! 🙂

Day 1

Ketika sampai di Bandara Labuan Bajo, saya dan teman-teman disambut dengan langit yang super biru. Cerah! Sebelum mendarat kami juga sudah disuguhkan ‘salam perkenalan’ dari balik jendela pesawat. Pulau Komodo dilihat dari ketinggian :’)
LABUAN BAJO

Dari bandara kami berangkat menuju pelabuhan dengan diantar oleh driver yang sudah disediakan oleh pihak travel. Selama perjalanan ke pelabuhan mata kami dimanjakan oleh hamparan laut biru dan deretan kapal yang mengapung. Tak tahan dengan keindahannya, kami memutuskan untuk berhenti sejenak dan mulai mengabadikan panorama yang tergambar di depan mata.

Perjalanan darat yang cukup panjang kali itu tak terasa. Tibalah kami di Pelabuhan Labuan Bajo. Di pelabuhan, kami bertemu untuk pertama kalinya dengan kapten kapal yang akan menemani kami sailing Komodo selama tiga hari kedepan. Namanya Akbar. Asli Bajo, cekatan, dan humoris. Itulah tiga kata yang bisa menggambarkan dirinya.
PULAU KELOR

 

Destinasi pertama kami adalah Pulau Kelor. Dari Labuan Bajo ke Pulau Kelor, kami menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam. Bukit berwarna kecoklatan dan laut biru menjadi menu utama dalam perjalanan siang itu.

image

Sesampainya di Pulau Kelor…..
Speechless. Pasirnya putih. Banget. Lautnya bening. Banget. Rasanya mau bangun rumah di situ aja, ngga mau pulang. Untuk menikmati view yang lebih bagus, kami diajak Kapten untuk menaiki bukit yang ada di depan mata. Fyi kemiringannya hampir 90 derajat guys!

Dengan terengah-engah sampailah kami di puncak bukit dan SUBHANALLAH LUAR BIASA. PULAU KELOR BAGUS BANGET, TUHAN….. :’)

Pulau Kelor

image
image

Saking bagusnya jadi kayak lukisan. Kalo ngga inget itinerary hari itu kayaknya kita ngga mau turun. Haha.

PULAU RINCA
Puas eksplore Pulau Kelor, kami langsung bergegas ke kapal untuk menuju ke Pulau Rinca. Dari Pulau Kelor ke Pulau Rinca membutuhkan 2-3 jam perjalanan.

Setelah destinasi pertama tadi kami semakin antusias dengan kejutan-kejutan di destinasi selanjutnya. Kapten Akbar juga banyak bercerita tentang Pulau Rinca. Menurut cerita Akbar, Pulau Rinca dihuni oleh komodo-komodo berukuran kecil. Jangan remehkan ukuran loh ya! Semakin kecil ukuran komodo maka semakin cepat pula larinya dalam mengejar mangsa. Oleh sebab itu, dari awal kami sudah diperingatkan untuk selalu waspada dan jangan terlalu mendekat. Komodo di Pulau Rinca juga tergolong ‘liar’ karena Rinca merupakan habitat asli dari Komodo.

Tibalah kami di Pulau Rinca. Saat tiba di Pulau, beberapa komodo sudah ‘menyambut’ kami. Ukuran komodo di pulau ini beragam, dari yang kecil, sedang, hingga besar ada. Benar apa yang dikatakan oleh Akbar, komodo berukuran sedang dan kecil mendominasi Pulau Rinca. Jadi harus ekstra hati-hati ya guys! Pulau Rinca ini cukup luas sehingga butuh beberapa jam untuk mengelilinginya. Di sini kami melihat habitat asli komodo dari mulai sarang, tempat bertelur, hingga taktiknya untuk mencari mangsa, yaitu dengan menyamar di antara ranting dan dedaunan.

image

Tak lupa juga kami menaiki bukit yang ada di Pulau Rinca. Dari atas bukit kami bisa melihat pemandangan di sekitar Pulau Rinca. Dan seperti biasa, kata bagus doang kayaknya ngga cukup mewakili pemandangan di sana.

Pulau Rinca done! Hari semakin sore, kami harus bergegas ke kapal untuk menuju homestay yang berada di Kampung Komodo. Di perjalanan menuju Kampung Komodo, lagi-lagi mata kami dimanjakan oleh lukisan matahari terbenam. Ini merupakan sunset terbaik yang pernah saya lihat. Ngga akan lupa. :’)

image

Tiba di homestay kami segera beristirahat karena tubuh yang sudah cukup lelah di perjalanan hari pertama ini. Ada apa ya di hari kedua? Belum capek kan bacanya?

Day 2

Di hari kedua ini kami bangun sangat pagi. Pukul 05.30 waktu setempat kami sudah siap di kapal untuk menuju destinasi selanjutnya, Pulau Padar!

Sangat excited dengan pulau hits yang satu ini. Kemaren-kemaren cuma liat dari instagramnya para travel blogger sekarang bisa langsung menginjakkan kaki di sana!

PULAU PADAR
Dari Kampung Komodo ke Pulau Padar menempuh 3-4 jam perjalanan. Perjalanan panjang kami isi dengan makan, tidur, dan tentu saja foto-foto! Dari sebelum tiba di pulau, Akbar sudah menunjuk bukit mana yang harus kami daki. Hm, lumayan juga.

Akhirnya sampailah kami di Pulau Padar. Agak ciut sih sebenernya. Haha. Tapi bayangan pemandangan di atas mengalahkan segalanya. Okelah, segala daya dan upaya saya kerahkan untuk sampai puncak!

Di perjalanan menuju puncak, birunya laut selalu menggoda kami untuk berhenti sejenak. Kalau mengutip kata-kata iklan yang lagi hits sekarang “liat yang bagus dikit cekrek, jalan bentar cekrek…”. Begitulah. Tapi ini salah banget loh. Semakin banyak kamu berhenti maka energi kamu akan cepat habis.

Maka dalam perjalanan menuju puncak (Apapun. Mau gunung, bukit, masa depan #ehgimana) sebaiknya berhentilah seperlunya saja, lalu usahakan jangan minum air terlalu banyak.

Bukit yang terjal ini kita tempuh dengan 45 menit – 1 jam perjalanan dengan kaki (sudah termasuk berhenti untuk foto-foto loh ya).

FINALLY, PUNCAK BUKIT.
Langitnya cerah, biru. Setiap jengkal yang diabadikan bagus semua. Kenapa sih di Jakarta dan Depok ngga ada beginian? Menurut ngana……. :’)

image
image

Setelah puas (sebenernya ngga pernah ada kata puas sih kalo ke tempat bagus begini) eksplore Pulau Padar, kami harus bergegas ke kapal untuk menuju ke Pantai Pink. Kita snorkeling. Yeay!

BEACH PINK
Dari Pulau Padar ke Pantai Pink tidak terlalu jauh, kami menempuh 1-2 jam perjalanan. Dalam perjalanan, Akbar kembali bercerita tentang Pantai Pink. Jadi, buat temen-temen yang belum tau kenapa bisa disebut pantai pink. Alasannya sederhana, yaitu karena pasir di pantai ini berwarna pink. Warna pink tersebut berasal dari karang-karang berwarna merah yang tergerus oleh air. Karang tersebut berjumlah banyak sehingga menghasilkan serpihan yang banyak pula, maka jadilah pantai pink :’)

image

Oh iya, karena di Pantai Pink tidak ada pelabuhan untuk bersandar. Maka, kami diangkut oleh kapal kecil menuju pantai. Dari kejauhan sudah tampak pink. Semakin mendekat semakin jelas warna pink-nya.

Setibanya di pantai, kami mulai mengenakan perlengkapan snorkeling. Saat itu arus sedang kencang, jadi kami diingatkan untuk berhati-hati. Untuk yang ngga terlalu jago renang dianjurkan menggunakan pelampung. Sadar dengan kemampuan renang saya yang dalam kategori pemula, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan pelampung.

Benar saja. Arusnya kencang dan airnya super dingin. Padahal matahari lagi terik banget. Bersyukur pakai pelampung karena arusnya beneran kenceng, jadi bisa nikmatin pemandangan laut dengan lebih tenang. Semakin ke tengah semakin bagus dan semakin dalam juga lautnya. Ngga pahamlah sama NTT, kenapa darat dan lautnya juara begini.

Dua jam snorkeling ngga kerasa loh. Sampai di pantai lagi, kulit tangan mengkerut dan bibir memucat karena kedinginan. Kami memutuskan berjemur sejenak untuk menghangatkan tubuh. Puas berjemur, kami kembali ke kapal untuk menuju destinasi selanjutnya. Pulau Komodo!

PULAU KOMODO

Sebenernya Pulau Komodo ini hampir sama dengan Pulau Rinca, yang membedakannya yaitu dominasi komodo yang berukuran besar. Ukurannya yang besar menyebabkan komodo bergerak lebih lambat.

image

Sebaliknya, Pulau Komodo tidaklah terlalu besar sehingga persebaran komodo bisa diprediksi. Dan memang saat kami kesana, beberapa spot memang terlihat seperti ‘disediakan’ pihak Taman Nasional untuk pengunjung bisa mengambil gambar dan berfoto bersama. Akhirnyaaaa punya foto close up si komodo. *Di habitat asli loh ya, bukan di Ragunan atau Taman Safari :p*

Karena hari semakin sore, kami kembali ke kapal untuk menuju ke homestay.

PULAU KALONG
Di perjalanan menuju homestay, kapal kami berhenti sejenak. Begitu pun dengan beberapa kapal lain. Persis di depan kami terhampar daratan cukup luas yang ditumbuhi oleh pohon mangrove. Awalnya kami bertanya-tanya, itukah yang dinamakan pulau kalong?

Pulau Kalong

image

Kalong yang berhamburan keluar dari sarang

Pertanyaan kami akhirnya terjawab. Ketika matahari mulai terbenam, ratusan bahkan ribuan kalong keluar dari sarangnya (yang tak lain adalah daratan dengan pohon mangrove tersebut).

Kami dibuat sangat-sangat takjub sore itu. Ribuan kelelawar seperti keluar menyeruak dari persembunyian untuk menunjukkan eksistensinya. Mereka terbang tinggi, tinggi sekali. Semburat langit orange menambah suasana dramatis. Seketika, dialog-dialog dalam diri bermunculan.

Kalau boleh diberi kesempatan. Tuhan, bolehkah saya menginjakkan kaki di tanah NTT lagi?” :’)

http://athifarahmah.tumblr.com/

0 Comments

Leave a Comment